Tips cara menge…

Tinggalkan komentar


Tips cara mengecilkan perut buncit yaitu:

1. lakukan olahraga mengecilkan perut secara teratur di waktu pagi dan sore

2.ikuti program diet kalori khusus untuk merampingkan perut dengan menjaga konsumsi kalori tidak melebihi 1600 kalori

3.perbanyak minum air putih minimal 8 gelas sehari untuk memperlancar proses metabolisme

4.perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung probiotik untuk memperlancar proses pencernaan

nuraeni

nama:nuraenista…

Tinggalkan komentar


nama:nuraeni

stambuk: 105 310 1662 10

gimana sich olahraga yang benar

olahraga yang benar adalah

1.kita harus kenali kondisi kesehatan dan kebugaran tubuh sebelum olahraga dengan cara melakukan tes kesehatan dan tes kebugaran jasmani

2.berolahraga sesuai dengan kemampuan kita dapat meningkatkan kesehatan secara bertahap, seseorang harus berolahraga dengan dosis atau takaran yang cukup.

nama:nuraenista…

Tinggalkan komentar


nama:nuraeni

stambuk: 105 310 1662 10

gimana sich olahraga yang benar

olahraga yang benar adalah

1.kita harus kenali kondisi kesehatan dan kebugaran tubuh sebelum olahraga dengan cara melakukan tes kesehatan dan tes kebugaran jasmani

2.berolahraga sesuai dengan kemampuan kita dapat meningkatkan kesehatan secara bertahap, seseorang harus berolahraga dengan dosis atau takaran yang cukup.

olahraga saat puasa

Tinggalkan komentar


awaluddin(105310167010)

Olahraga saat puasa sering dihindari oleh sebagian besar umat muslim yang menjalankannya. Kebanyakan orang memandang kegiatan olahraga di bulan puasa bisa mengganggu puasa dan menyebabkan lelah, lemas dan terkurasnya energi. Pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataanya, berolahraga dapat mengubah cadangan lemak atau energi di dalam tubuh menjadi glukosa yang justru akan mengusir rasa lelah, dan mengantuk. Pada saat berolahraga tubuh kita juga mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita merasa senang dan bersemangat, sehingga mujarab sekali untuk mengusir malas di bulan puasa. Selain itu, olahraga di bulan puasa akan membantu memudahkan kita menjaga atau membuat tubuh langsing dan kencang, karena ternyata dalam keadaan perut kosong, tubuh membakar lemak lebih banyak.

Olahraga saat puasa tentu saja intensitasnya tidak sama seperti biasanya. Disarankan melakukan olahraga ringan yang tidak menyebabkan kita dehidrasi. Simak jenis dan tips olahraga saat puasa berikut agar puasa Anda tidak terganggu.

1. Olahraga setelah berbuka

  • Setelah berbuka puasa Anda dapat melakukan aerobik atau olahraga sehat dengan menari dengan gerakan-gerakan ringan seperti belly dance.

  • Pastikan Anda telah mengisi perut Anda dengan makanan ringan, hindari daging-dagingan sebelum melakukan olahraga.

  • Jangan terlalu banyak makan sebelum melakukan olahraga, karena bisa mengakibatkan mual

  • Kurangi durasinya dari yang biasa.

2. Olahraga setelah sahur (pagi hari)

  • Lakukan stretching atau peregangan pada bagian atas tubuh dan tulang punggung.

  • Untuk peregangan bagian atas tubuh caranya lakukan dengan posisi duduk bersila dengan kedua telapak kaki saling bertemu.  Letakkan kedua tangan di pergelangan kaki. Tundukkan pandangan ke lantai, tarik nafas dalam-dalam, kemudian hembuskan, lakukan hingga 15 kali.

  • Untuk peregangan tulang punggung, lakukan dengan berbaring dengan posisi lutut ditekuk dan tangan berada di samping tubuh. Tarik nafas dalam-dalam, rentangkan kedua tangan ke atas kepala, tahan. Angkat pinggul dan punggung perlahan (seperti sit up), rasakan kontraksi pada otot perut. Hembuskan nafas perlahan sambil mengembalikan pinggul dan punggung ke posisi semula. Lakukan hingga 5 hingga 7 kali. Gerakan ini juga berfungsi sebagai olahraga mengecilkan perut sehingga Anda terlihat lebih langsing.

  • Pastikan Anda telah banyak mengkonsumsi air putih saat sahur untuk menghindari dehidrasi.

3. Olahraga di siang hari

  • Lakukan stretching atau peregangan di siang hari pada tubuh bagian atas.

  • Untuk tubuh bagian atas, duduk di lantai dengan lutut ditekuk setinggi perut. Pegang bagian belakang lutut, tarik nafas dalam-dalam. Hembuskan perlahan sambil mendorong bagian atas tubuh ke arah belakang, dan arahkan titik pandang ke langit-langit. Tarik nafas kembali sambil mengembalikan tubuh ke posisi semula dan arahkan pandangan ke lantai.

  • Ulangi 5 hingga 7 kali.

4. Olahraga di Sore Hari (Menjelang Berbuka)

  • Menjelang berbuka puasa, Anda bisa melakukan olahraga ringan tapi agak berkeringat, yaitu dengan jogging atau bersepeda santai.

  • Dalam kondisi perut kosong, lemak akan lebih cepat terbakar, sehingga jika Anda melakukan olahraga ini akan dengan cepat menurunkan berat badan Anda.

  • Lakukan dengan durasi yang lebih sedikit dari biasanya dan selingi dengan istirahat bertahap setiap 5 menit.

  • Saat buka puasa, isi perut Anda dengan air putih hangat terlebih dahulu, jangan dengan minuman dingin untuk mencegah kram.

Olahraga saat puasa tetap menyenangkan bukan? Anda bisa memilih jenis olahraga di atas yang sesuai dengan kondisi Anda. Simak juga 10 tips puasa sehat untuk menyempurnakan ibadah puasa Anda. Selamat berolahraga dan selamat berpuasa.

 

 

Olahraga yang Aman di Bulan Puasa

Tinggalkan komentar


 

awaluddin(105310167010)

 

Puasa bukan alasan untuk tidak berolahraga. Meski sedang berpuasa, tubuh tetap membutuhkan latihan fisik agar tetap bugar. Namun sebaiknya perhatikan olahraga yang akan Anda lakukan, jangan sampai olahraga justru membuat kondisi tubuh menjadi lebih buruk.

“Orang yang mau berolahraga harus tahu tujuannya untuk apa. Kalau tujuannya olahraga untuk sehat, untuk hidup lebih baik, maka lakukan olahraga sesuai kemampuan tubuh. Kalau orang yang biasanya hanya ngantor, lalu ingin hidupnya lebih baik, maka mulailah dengan olahraga ringan karena tubuhnya kan belum siap,” ujar Dr. Michael Triangto, SpKO, Spesialis Kedokteran Olahraga di RS Mitra Kemayoran saat dihubungi detikHealth, Sabtu (6/8/2011).

Begitu juga dengan kondisi tubuh orang yang sedang berpuasa. Tidak semua olahraga baik dilakukan saat Anda berpuasa. Salah-salah, olahraga justru bisa membuat kondisi tubuh menjadi memburuk.

“Saya tidak mengatakan tidak boleh olahraga berat, tapi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh. Latihan berat boleh tapi sebaiknya di sore karena setelah itu kan kita berbuka,” lanjut Dr. Michael yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kedokteran Olahraga, Litbang PB PBSI.

Untuk itu, Dr Michael memberikan beberapa tips untuk melakukan olahraga yang aman di bulan puasa:

Olahraga di pagi hari

  1. Tentukan tujuan dari olahraga tersebut. Bila ditujukan untuk kesehatan dan kebugaran, sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari setelah sahur dengan intensitas ringan, sehingga tidak memicu terjadinya dehidrasi dan kelelahan yang berlebihan saat siang hari yang berpotensi untuk mengurangi efektivitas kerja.

  2. Karena intensitas latihan yang dilakukan itu ringan, tentunya hal ini tidak akan memberatkan bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah berolahraga.

  3. Lakukan olahraga pagi tersebut bersama dengan anggota keluarga lainnya sehingga tidak hanya diri kita sendiri yang seha,t namun juga kita mengajak orang lain untuk menjalani kebiasaan hidup sehat dan lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita.


“Olahraga pagi itu sebaiknya olahraga ringan dan bersifat kekeluargaan, karena bisa dilakukan bersama-sama, sehingga secara mental memupuk rasa kekeluargaan,” jelas Dr Michael.

Menurut Dr Michael, contoh olahraga ringan yang dapat dilakukan di pagi hari antara lain:

  1. Jalan cepat bersama keluarga

  2. Olahraga permainan seperti bermain sepak bola di halaman rumah atau bulu tangkis, yang melibatkan lebih dari 1 orang.

  3. Bersepeda bersama.


Olahraga sore hari

  1. Bila tujuan kita adalah untuk tetap menjaga kekuatan dan bentuk otot yang telah terbentuk sebelumnya atau juga ingin melakukan olahraga yang lebih berat sebaiknya dilakukan sore hari menjelang saatnya berbuka. Alasannya, bila olahraga tersebut menimbulkan kehilangan cairan yang berlebihan tentunya akan lebih mudah tercukupi saat waktu berbuka. Selain itu kelelahan yang terjadi akibat menjalani latihan berat tersebut tidak akan menimbulkan kelelahan tubuh dan mengganggu performa kita dalam bekerja.

  2. Latihan yang bersifat eksplosiv dengan beban yang berat biasanya dipakai untuk mengisi olahraga sore hari ini.

  3. Intensitas latihan yang berat biasanya harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan dari masing-masing orang sehingga latihan sore hari ini biasanya lebih bersifat individual.


“Latihan sore hari biasanya lebih bersifat individual, jadi bisa lebih berat. Olahraga sore misalnya
gym. Bagi orang yang terbiasa nge-gym, puasa bisa membuat ototnya kendur, maka olahraga di sore hari ini bisa tetap menjaga ototnya,” jelas Dr Michael.

Keamanan saat melakukan olahraga sangat ditekankan Dr Michael karena banyak kasus orang yang memaksakan diri untuk berolahraga namun pada saat kondisi tubuh sedang tidak siap, yang akhirnya dapat berakibat fatal.

“Saya mendapat kabar kalau salah satu pelatih senior mengalami serangan stroke haemoragic sesaat setelah menyelesaikan olahraganya. Badannya besar seperti Ade Rai. Katanya dia mengeluh badannya kurang enak dan mau cari keringat. Lalu dia berolahraga sepeda statis itu, tapi cukup berat dan keluar keringat banyak. Tiba-tiba kok tangannya nggak enak terus minta diurut. Eh terus kakinya juga nggak enak dan tiba-tiba jadi pelo,” jelas Dr Michael.

Untuk itu, Dr Michael menganjurkan agar orang selalu berhati-hati saat memulai berolahraga, terutama bila tubuh ‘terasa’ kurang sehat’.

“Orang yang berpuasa kan sering merasa tubuhnya ‘kurang sehat’. Intinya jangan dipaksakan dan tahu tujuan berolahraga. Bila badan sedang tidak sehat, lebih aman untuk memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan segala sesuatu memang dalam keadaan baik,” tutup Dr Michael.

(Merry Wahyuningsih – detikHealth)

awaluddin(10531…

Tinggalkan komentar


awaluddin(105310167010)

Olahraga baik untuk kesehatan anak. Tapi, bagaimana jika anak Anda tidak suka berolahraga? Jangan khawatir. Kami punya solusi.

Beberapa anak tidak menyukai olahraga karena mereka tidak mengetahui aturan mainnya atau tidak mempraktikkan kegiatan olahraga secara rutin. Bagi anak, olahraga bisa terdengar rumit karena ada aturan main dan peralatan khusus. Bahkan lapangan olahraga yang berbeda-beda bentuk, ukuran, dan dipenuhi garis-garis pembatas, terlihat memusingkan, terutama jika anak masih berusia dini.

Kendala seperti itu tentu tidak menyurutkan niat Anda mendorong anak aktif berolahraga, bukan?  Anda tentu ingin anak memetik manfaat optimal dari olahraga, baik olahraga individu maupun permainan tim. “Dengan bergerak aktif, anak telah memulai lebih awal gaya hidup sehat yang akan melindunginya dari penyakit akibat kurang gerak seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, atau osteoporosis,” kata Dr. Ade Tobing, SpKO, staf akademik pada Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga Universitas Indonesia. Kiat berikut bisa membantu Anda merangsang minat anak terhadap olahraga bahkan membuat dia ingin mendalami jenis olahraga tertentu. Selamat mencoba!

* Ciptakan suasana menyenangkan. Secara umum, cara membuat anak gemar berolahraga adalah dengan menciptakan suasana yang menyenangkan. Dalam tulisannya, Karen Cogan, psikolog olahraga pada Center for Sports Psychology di Denten, Texas, menyatakan bahwa anak memutuskan untuk berhenti dari kegiatan olahraga rutin karena berbagai alasan, misalnya pernah mengalami cedera, terlalu dipaksa untuk menang, merasa tidak berbakat, atau lambat menguasai teknik berolahraga. Suasana menyenangkan penting untuk membangkitkan semangat atau menghapus trauma anak atas pengalaman buruk terhadap olahraga.

* Dari orang tua. Kalimat “Anak belajar dari orang tua” atau “Anak adalah peniru ulung” mungkin sudah bosan Anda dengar. Tapi memang itu yang terjadi. Jika Anda selalu meluangkan waktu untuk joging di pagi hari, berenang di akhir pekan, atau ayah punya koleksi foto-foto saat menjuarai liga basket mahasiswa, besar kemungkinan anak akan tertarik mengikuti jejak Anda. Anak akan melihat langsung bahwa Anda tampak segar usai melakukan aerobik sehingga dia percaya khasiat olahraga terhadap tubuh, berkat contoh nyata dari Anda.

* Bantuan buku, film, atau media lain. Menonton film animasi SpaceJam dan menyaksikan kelucuan Bugs Bunny bermain basket bersama Michael Jordan, bisa memotivasi anak untuk mencoba olahraga bola basket. Menonton DVD atau melihat-lihat buku cerita bergambar yang bertema keceriaan berolahraga atau cerita yang memberi penjelasan singkat tentang cabang olahraga tertentu, bisa memancing ketertarikan anak. Bahkan, anak bisa saja tertarik berolahraga karena ayah memasang poster kesebelasan favoritnya, AC Milan, atau melihat koleksi kartu basket paman.

* Buat batasan menonton televisi. Jika Anda sudah membuat kesepakatan dengan anak seputar waktu menonton televisi dan bermain komputer, Anda perlu menawarkan alternatif kegiatan pengganti. Ketika durasi anak untuk duduk diam di depan televisi dan komputer dibatasi, secara alami dia akan menjadi lebih aktif bergerak. Selain berkesenian dan kegiatan hobi, olahraga adalah aktivitas bermanfaat sebagai pengganti televisi. Yang perlu Anda lakukan adalah mengenalkan sebanyak mungkin jenis olahraga dan biarkan anak memilih kegiatan favoritnya.

* Jangan libatkan ke dalam kompetisi. Pengalaman buruk bisa membuat anak enggan atau bahkan trauma berolahraga, terlebih dalam olahraga kompetisi. Tidak semua anak punya mental kompetisi. Jika anak dibebani dengan tekanan untuk meraih kemenangan, dia bisa stres, apalagi jika dia berbuat kesalahan fatal yang menyebabkan kekalahan. Lebih baik, bebaskan dia dari bentuk kompetisi yang menekankan pada hasil kalah atau menang. Biarkan dia menikmati setiap gerakan tubuh dan berolahraga dengan riang.

* Lakukan bersama teman sebaya. “Kegiatan yang dapat dilakukan beramai-ramai bersama teman juga bisa menyenangkan dan memotivasi anak untuk terus melakukan aktivitas olahraga,” kata Dr. Ade.

 

Sesuaikan dengan Usia

Olahraga untuk murid TK dengan siswa SD, tentu tidak sama. Secara fisik maupun kematangan emosi, mereka punya perbedaan besar. Karena itu, perlu disesuaikan jenis olahraga yang Anda kenalkan untuk anak-anak di masing-masing usia. Tidak hanya itu, kiat menanamkan kecintaan anak terhadap olahraga juga perlu disesuaikan dengan usia anak.

Murid TK

Fokuskan pada elemen permainan saat mengenalkan olahraga apapun kepada anak usia dini. Buat olahraga jadi menyenangkan. Jangan bebani mereka dengan target kompetisi, mencetak gol, dan aturan permainan. Biarkan mereka berlari, menendang, melempar, dan tertawa! Gunakan perlengkapan olahraga yang sesuai dengan ukuran tubuh dan kemampuan mereka mengkoordinasikan anggota badan (misalnya, lemparkan bantal kain kecil berisi biji-bijian kering jika anak masih sulit memegang bola berukuran besar). Adaptasikan jenis olahraga tertentu ke dalam bentuk permainan sesuai kemampuan anak. Dan jangan lupa melontarkan kalimat-kalimat penyemangat sebagai tanda Anda menghargai usaha mereka.

Untuk anak yang masih kecil, menjaga kecintaan anak terhadap olahraga berarti menghindari situasi kompetitif dan mengenalkan anak kepada berbagai jenis olahraga. Dr. Thomas Roland, ahli jantung anak yang tergabung dalam Komite Kedokteran Olahraga dan Fitnes American Academy of Pediatrics mengatakan, jika anak berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan olahraga, dia akan cenderung mengikuti kegiatan olahraga untuk jangka waktu lama.

Siswa SD

sikolog olahraga Rick Wolff, yang juga penulis buku Good Sports, menekankan bahwa orang tua dengan anak usia 5-12 tahun tidak perlu terlalu khawatir jika anak kurang menguasai teknik sepak pojok dalam olahraga bola. “Yang paling penting adalah mengembangkan kecintaan dan antusiasme anak terhadap olahraga.”

Menurut terapis keluarga sekaligus penulis buku Take your Nose Ring Out, Honey, We’re Going to Grandma’s, Carleton Kendrick Ed.M, orang tua dan guru olahraga sebaiknya menyadari perbedaan perkembangan fisik, intelektual, emosi, dan sosial masing-masing anak. “Jangan menetapkan target yang tidak realistis dalam hal performa olahraga anak. Orang tua bisa lebih memfokuskan perhatian pada koordinasi otot, dedikasi anak terhadap suatu bidang, atau seberapa besar minat anak terhadap olahraga,” kata Carleton. Dia menambahkan, banyak anak yang berhenti berolahraga karena mereka merasa tidak bisa memenuhi harapan orang tua atau pelatih. Jika anak sudah beranjak dewasa dan menyukai cabang olahraga tertentu, orang tua bisa mendorong anak untuk memfokuskan diri pada pengingkatan performa (bukan pada pencapaian target kemenangan) dan terus menggali sisi menarik dan menyenangkan dari cabang olahraga tersebut.

Boks

Pentahapan latihan bagi anak perlu disesuaikan dengan kesiapan motorik dan kognitif.

Usia 2-5 tahun: keterampilan motorik masih sederhana, misalnya melompat, berlari, melempar, dan menangkap. Sedapat mungkin tidak merupakan kombinasi yang rumit.

Usia 6-9 tahun: keterampilan motorik sederhana yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya, dikombinasikan dengan ketepatan gerakan yang pada dasarnya adalah dasar keterampilan olahraga. Contoh: anak melempar, menendang pada sasarannya.

Usia 10-12 tahun: Pada tahap ini keterampilan motorik yang telah dimahirkan digabung dengan keterampilan kognitif dalam aturan cabang olahraga tertentu.

 

Ditulis oleh AN. Ubaedy

Cara Memaksimalkan Manfaat Olahraga Lari

Tinggalkan komentar


dipublish oleh Aswar (10531 01660 10)

azwar_ar@rocketmail.com

Jakarta – Sekilas berlari memang terlihat mudah. Anda hanya perlu mengayunkan kaki dengan cepat. Padahal, berlari yang benar harus memperhatikan beberapa hal. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki saat berlari: Lagi

Older Entries